Prihatin atas merebaknya penjahat dunia maya yang merusak nama baik agama Islam dengan hoax dan ujaran kebencian, PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Jawa Tengah mengadakan Pelatihan Pengembangan Kapasitas Information Technology (IT) untuk para kader penggerak NU.

Pelatihan untuk melawan dominasi kelompok radikal di internet ini didakan oleh Tim PKPNU (Pelatihan Kader Penggerak NU) dari PCNU (Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama) se-Jawa Tengah. Bertempat  di Aula Pondok Pesantren Al Itqoon Desa Bugen Kelurahan Tlogosari Wetan Kecamatan Pedurungan Kota Semarang, Rabu (14/03/2018).

Instruktur PKPNU dari PBNU, KH Anis Ilahi hadir sebagai pemberi motivai dan materi digital literacy. Ia menyatakan, potensi besar kader NU dalam dunia cyber, hanya saja hal tersebut harus dikelola melalui pelatihan yang terstruktur dengan baik. Serta terkoordinir dalam barisan dan komando yang terstruktur.

NU Jangan Terus Terlambat

Pada era milenial ini semakin banyak yang ingin belajar agama, namun enggan berguru secara langsung. Kaum  muslim saat ini menggunakan media internet sebagai rujukan dalam belajar agama, sementara banyak kader NU punya pemahaman agama cukup mumpuni, tidak banyak yang berdakwah melalui internet.

“Sebenarnya, generasi milenial rindu kehidupan beragama tapi jauh dari ulama. Hal ini yang terlambat diantisipasi oleh NU” kata dia.

Ia  mengungkapkan perlunya aktifitas generasi NU dalam menghalau gerakan islam trans nasional,  sebab mereka yang ingin belajar agama secara online perlu sentuhan media dari kader NU, kalau tidak dilakukan akan dilayani oleh mereka yang menganut islam trans nasional seperti wahabi, HTI, dan sebagainya.

Akibat dari kenyataan tersebut, lanjutnya, wacana keagamaan banyak diisi model ajaran yang tidak berhaluan ahlussunna wal jamaah (aswaja).

“Saat ini wacana keagamaan di internet masih didominasi model garis keras. Kita harus rebut ruang itu,” tuturnya.

Tak hanya mendominasi dengan ajaran radikal, website dan media digital mereka juga kerap memusuhi NU.  Yaitu dengan mencaci ajaran dan amaliyah NU, menghina dan memfitnah pemimpin-pemimpin NU,  ­­maupun mendelegitimasi organisasi NU. Termasuk membully organisasi di bawah naungan NU seperti Ansor/Banser dan lainnya.

“Akun youtube, twitter, facebook, dan WhattAps banyak digunakan untuk menyerang kita. Mereka mendulang popularitas dan uang dari cara begitu,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia terangkan, perang cyber tidak bisa dilakukan secara sendiri. Hal ini seperti dibuktikan oleh Banser saat melawan Felix Shiaw dan HTI. Mereka beraninya ramai di media. Begitu didatangi langsung tidak garang bahkan ciut nyalinya.

Dalam hal lain ia mencontohkan sebuah kasus akun facebook KH Ubaidullah Shadaqah, Rois Syuriah PWNU Jateng diserang oleh lawan NU. Dari  penelusuran tim cyber, ternyata yang menyerang Kiai Ubed adalah mesin bukan orang.

“Penyerang  tersebut bukan ribuan orang, melainkan ribuan akun tanpa kejelasan pemiliknya. Itu mesin yang disetel,” tuturnya.

Menyinggung pada kasus yang tengah ditangani Cyber Polri, dia menyatakan bahwa hal tersebut merupakan bagian yang terorganisir.  “Muslim Cyber Army yang ditangkap polri itu yang terorganisir. Bukan yang individu” tegas anggota tim analis cyber PBNU ini.

Dengan adanya pelatihan ini ia berharap para kader penggerak NU di Jawa Tengah mampu melayani umat Islam yang hendak belajar ilmu agama secara online, yang jumlahnya sekitar 30 hingga 40 persen.

Selain membekali peserta dengan analisis media, para kader mendapatkan pengetahuan virtual cyber dari Herman

Abdul Bakar, tim IT PCNU Kota Semarang. (Rifqi/Ichwan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *