MAKNA PEMBACAAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN DALAM TRADISI SEDEKAH LAUT: SEBUAH KAJIAN LIVING QUR’AN

Oleh: Dwi Laili Puput Rahmawati

GOL.id-Hidup dengan al-Qur’an merupakan sebuah keniscayaan (sunnatullah) yang akan menuntun manusia menuju Shiratal Mustaqim (jalan yang lurus). Dalam kehidupan masyarakat, al-Qur’an memiliki banyak pernan yang mampu menjawab perkembangan zaman sekaligus memberikan solusi terbaik.

Hal ini tidak lepas adanya kebutuhan untuk hidup dengan al-Qur’an, atau bisa kita sebut sebagai Living Qur’an (Kehidupan dalam al-Qur’an). Living Qur’an adalah salah satu bentuk perkembangan terhadap studi al-Qur’an yang berusaha untuk menangkap berbagai pemaknaan atau pandangan masyarakat terhadap al-Qur’an. Model studi living Qur’an ini menjadi fenomena yang perlu dilakukan di tengah-tengah masyarakat. Oleh sebab itu, berbagai fenomena al-Qur’an banyak ditemukan yang sering kali menjadi bagian dari hidup mereka. Living Qur’an sejatinya telah lama dimulai oleh para kyai yang notabenenya sebagai pewaris nabi. Kemudian menurun kepada para muridnya, atau kita sebut dengan santri.

Pada dasarnya, living Qur’an sudah dilakukan sejak zaman Rasulullah dahulu kala. Studi terhadap al-Qur’an pada masa itu sebagai upaya sistematis terhadap hal-hal yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan al-Qur’an. Bahwasanya living Qur’an bermula dari fenomena Qur’an in Everiday Life, yaitu upaya menangkap makna dan fungsi al-Qur’an yang dialami oleh masyarakat muslim. Akan tetapi, pada saat itu belum ada pendekatan ilmu pengetahuan sosial yang mengonsep sebuah pengetahuan pada disiplin ilmu tertentu yang notabene adalah produk Barat.

Living Qur’an bukan hanya dimaksudkan bagaimana seseorang atau kelompok orang memahami al-Qur’an, tetapi bagaiamana al-Qur’an itu disikapi dan direpon oleh masyarakat muslim dan realitas kehidupan sehari-hari menurut konteks budaya dan pergaulan sosial. Berbagai aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat muslim yang pada mulanya tidak bersumber dari Agama, melainkan berangkat dari interaksi sosial antar sesama manusia sebagai makhluk sosial, sehingga lahirlah kebudayaan-kebudayaan yang beraneka ragama dalam kehidupan manusia. Keragaman budaya yang ada sarat akan kandungan makna dan dasar pemikiran yang diberikan oleh kelompok masyarakat tertentu, tetapi meskipun beragama kebudayaan yang ada tidak lepas dari asumsi-asumsi yang diberkannya, termasuk resepsi masyarakat terhadap al-Qur’an ketika menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya tanpa melakukan pemahaman teks al-Qur’an. Pemahaman tersebut bisa saja lahir dan timbul dari kotruksi sosial masyarakat.

Bagi umat Islam, kitab suci al-Qur’an merupakan pedoman dan petunjuk dalam kehidupan. Al-Qur’an bukan hanya sekedar simbol bagi umat Islam, namun lebih dari itu. Al-Qur’an diperuntukkan umat manusia untuk dibaca, dipelajari, dikaji, dan diamalkan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, al-Qur’an dijadikan sebagai sarana atau dialog dalam menyelesaikan setiap permasalahan kehidupan umat manusia. Al-Qur’an diinginkan untuk tidak hanya dimaknai sebagai sebuah kitab suci saja, tetapi juga sebuah kitab yang isinya terwujud dan berusaha untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman dialog atau interaksi dengan al-Qur’an menghasilkan pemahaman dan penghayatan terhadap ayat-ayat tertentu. Adapun pengalaman tersebut didapatkan melalui berbagai macam kegiatan, seperti membaca al-Qur’an, memahami, dan menafsirkannya.

Berbicara tentang living Qur’an, ada salah satu contoh yang unik untuk dikaji, yaitu adanya tradisi sedekah laut pada masyarakat pesisir. Di wilayah pesisir, terdapat sebuah tradisi yang dilakukan sejak turun temurun oleh masyarakat, di antaranya yaitu tradisi sedekah laut atau yang kadang masyarakat menyebutnya petik laut. Tradisi tersebut bisa disebut sebagai upacara pantai, yang berbagai pengamatan memiliki relasi harmonis dengan agama. Hal itu tampak terlihat betapa sejak lama perayaan tradisi sedekah laut dan praktik keagamaan memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan dan aktivitas keseharian yang sangat kental.

Perayaan tradisi sedekah laut adalah perayaan tradisi yang konon telah hidup sejak tahun 1700. Pada ritual tersebut biasanya diadakan larung sesaji (mempersembahkan sesaji) di laut, tradisi tersebut yang terlihat adalah adanya penggabungan ajaran Islam (dalam pengertian tekstual-normatif) dan kearifan lokal yang menjadi ciri khas masyarakat pesisir. Unsur-unsur penggabungan in meliputi pembacaan al-Qur’an (khataman), istighasah, tahlil, yaasiin, dan pembacaan doa secara islami. Sedangkan tradisi lokalnya meliputi aneka ragam sesaji dan persembahan.

Secara teologis, sedekah laut dapat dilihat pada masyarakat pesisir yang menyelenggarakan tradisi sedekah laut sebagai media untuk bersyukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat yang telah diberikan, yaitu berupa alam semesta seisinya. Allah SWT telah mengajarkan kepada hamba-Nya yang pandai bersyukur, maka nikmatnya akan selalu ditambah oleh Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *